Kota Minyak yang Terus Berkembang

Balikpapan, secara geografis terletak di garis katulistiwa. Hal itu yang membuat daerah ini menjadi istimewa, tidak mengenal musim. Cuaca panas terik, bisa turun hujan.

Cara Hidup Hemat di Balikpapan

Balikpapan merupakan daerah yang memiliki perkembangan yang amat pesat. Bila menengok 10 tahun silam, mungkin masih banyak ditemui pohon-pohon besar (kayu besi: ulin) menjulang tinggi. Akan tetapi, sekarang akan ditemui gedung-gedung tinggi nan megah. Mulai dari mall, hotel, hingga apartemen mewah. Balikpapan kini menjadi inceran orang-orang ibukota untuk mengembangkan usaha. Tak ayal, jika pembangunan di kota ini sudah hampir sejajar dengan ibukota.

Buku Mempererat Silaturrahim

Dulu saya hanya membaca buku di perpustakaan, sampai akhirnya sekarang saya sudah memiliki koleksi buku yang sudah mencapai ratusan buku. Sekali lagi, karena hal itu berawal dari kecintaan saya terhadap buku. Lambat laun, dari yang hanya bisa membaca karya saja. Sekarang, kecintaan saya itu menghubungkan saya dengan penulis-penulis buku. Dan dari buah silaturrahim itu, saya pun mulai menulis buku. Sungguh ini tidak saya duga sama sekali.

Masalah

Ya, keberanian adalah modal utama, selain kepercayaan. Sebab saya percaya di balik kesulitan ada kemudahan. Setidaknya hal itu telah dibuktikan oleh Chairul Tanjung—pemilik Group TransCorps (TransTV dan Trans7), selain itu juga pemilik Bank Mega—yang berani menjadi “penentang”, sehingga menempatkan dirinya pada posisi pengusaha sukses.

Workshop Menulis Puisi

Workshop menulis puisi bersama Akhmad Fatoni (penyair dan akademisi). Gratis dan Terbuka untuk umum. Pendaftaran terakhir Jumat, 15 Mei 2015, pukul 15.00 WIB.

Thursday, 21 May 2015

Tulisan Ringan Selalu Menawan

Oleh: Akhmad Fatoni

Esai Mochammad Asrori di Harian Radar Mojokerto, 17 Mei 2015

Entah kenapa saya suka sekali membaca tulisan yang renyah dan ringan. Ya, akhir-akhir ini saya memang terpikat dengan tulisan model seperti itu. Kali pertama saya membaca dan langsung terpikat yakni ketika membaca kolom di harian Kompas yang ditulis oleh Samuel Mulia. Selanjutnya ada lagi, AS Laksana di harian Jawa Pos (dan juga di blognya). Entah kenapa saya selalu mencari tulisan ringan semacam itu. Dan ketemulah dengan tulisan Hasan Aspahani dan Aan Mansur. Ternyata beberapa hari lalu, saya membaca juga tulisan orang Mojokerto, Mochmammad Asrori. 

Tentu, akhirnya saya secara diam-diam akan memantau terus tulisan Asrori. Apakah dia akan menulis seperti ini lagi atau hanya ini saja. Entahlah. Itu dari segi ketertarikannya. Bila menilik isi, tentu ini lain ceritanya. Saya membaca tulisan ini kali pertama di akun facebook seorang teman. Dan akhirnya menemukan di sini (karena saya suka, ya saya bagikan saja tautannya, klik di sini). Anda bisa membaca tulisan Asrori itu dengan klik tautannya, mungkin belum membaca. Ya, biar Anda bisa memahami maksud dari tulisan saya ini mengarah ke mana.

Oke kembali pada isi tulisan tersebut, pembacaan dari kacamata saya, tulisan itu centil. Bisa dikatakan juga nakal. Pandangan tersebut membuat saya beropini dua hal, yakni tulisannya terlalu frontal sebab perpaduan antara seorang sastrawan (dan budayawan), sebab akhir-akhir ini pandangan dan pendapat Dadang Ari Murtono (DAM) mulai menyoroti hal yang lebih luas, seperti ludruk, wayang, tari, dan juga cerita rakyat. Tentu hal itu amat fatal, sesuatu yang amat besar disandingjajarkan dengan hal yang dijual kiloan di pasar-pasar. Aih. Semoga DAM tidak meletup membaca tulisan ini. 

Pandanan kedua, yakni tulisan nakal ini tentu memiliki maksud untuk menggugah orang-orang Mojokerto (yang mungkin belum kenal DAM). Ya, itu memang pilihan Asrori sebagai penulis. Namanya juga tulisan ringan, jadi harus dibuat menghibur dan menarik orang. Dan dari sini, saya menaksir bahwa penulis berhasil. Apalagi jika ada yang membaca tulisan ini dan marah. Tentu kemarahan itulah energi letup dari tulisan ini. Gaung dari apa intisari dari tulisan: menjual DAM. Ya, sekali lagi promosi gethok tular itu lebih dahsyat.
Selebihnya, segala hal itu memiliki konsekuensinya. Dan mungkin juga, tulisan ringan saya ini bisa juga memiliki pendapat yang pro dan kontra. Mengapa? Ya karena pembaca itu cerdas.***

Thursday, 7 May 2015

Workshop Menulis Puisi

Workshop Menulis Puisi

Bersama Akhmad Fatoni (penyair dan akademisi)


Peserta:

-umum

-membawa peralatan menulis


Fasilitas:

-sertifikat

-support penerbitan


Waktu:

Minggu, 17 Mei 2015

Pukul 09.00 wib


Tempat:

Kelas KAJ

Jalan Mbah Jambu Londen RT01 RW01, Mojosulur, Mojosari, Mojokerto, Jawa Timur


Pendaftaran via sms.

Format sms: ketik nama#alamat#aktivas#lembaga kirim ke 089649248805


Contoh:

Tamara#Gondang-Mojokerto#kuliah#Universitas Brawijaya Malang

Andy Rizki#Jalan Mojopahit 145 Mojokerto#kerja#PT Tjiwi Kimia

Via Amelia#Jalan Merdeka 23 Jombang#sekolah#SMAN 1 Jombang


*pendaftaran di atas pukul 15.00 WIB Jumat, 15 Mei 2015

Saturday, 2 May 2015

Perkumpulan Orang-Orang yang Suka Membaca

Oleh Akhmad Fatoni

Hari ini, (Minggu, 3 Maret 2015) saya merencanakan membuat sebuah pertemuan dengan rekan-rekan Liliput (Lingkar Literasi Putih). Perencanaan itu sudah saya atur beberapa hari yang lalu. Kita memilih tempat di Perpustakaan Kabupaten Mojokerto. Yah, itu pertemuan perdana dan pada pertemuan itu kita mencakapkan apa-apa yang harus dilakukan dalam pertemuan tidak penting di akhir pekan.

Yah, saya menganggap seperti itu. Namanya juga akhir pekan. Akhir untuk meluruskan otot yang kaku dan penat karena aktivitas yang padat. Saya membayangkan pertemuan ini semacam rekreasi (cocok dengan salah satu tujuan seseorang datang ke perpus, tidak percaya silakan datang sendiri dan ngecek di komputer layanan perpustakaan). Begitulah, saya sedang rekreasi. Rekreasi dengan membicarakan apa yang perlu dikemas untuk perjalanan hidup. Ya, hidup ini kadang terlalu suram jika kita tidak membawa bekal.

Ah, tapi saya merasa ini takdir Tuhan. Bagaimana tidak, ketika kita mau membicarakan soal bincang buku. Tiba-tiba saya dikagetkan dengan tulisan AS Laksana di Ruang Putih Jawa Pos,  "Beberapa Saran tentang Bacaan yang Penting bagi Anda".  Aih, benar-benar sesuatu yang misterius.

Tak lama saya duduk dan membaca koran Jawa Pos, datang Intan (seseorang yang ikut kelas menulis saya) dan sengaja saya ajak ikut pertemuan ini. Obrolan dengan Intan mulai terjadi dan saya memintanya membaca tulisan AS Laksana. Baru beberapa menit setelah itu, rekan Liliput (Kak Asrori dan Kak Aris) datang. Ruang pun dibangun. Cerita juga dibongkar. Acara berjalan gayeng. Dan akhirnya diputuskan, pertemuan ini rutin sebulan sekali, pada tiap awal bulan. Sampai jumpa bulan depan. Dan bila mau berkunjung dan melihat aktivitas kami, tengok di www.lingkarliterasi.wordpress.com. Wah pengen bergabung. Bagaimana caranya? Gampang datang saja ke Perpustakaan Kabupaten tiap awal bulan. Kalau mau memantau bisa masuk ke akun Liliput di facebook. Sampai jumpa bulan depan. ***

Tuesday, 28 April 2015

Hunting Ceria #1

Hello, pada acara hunting ceria kali ini, saya ditemani oleh Anita.
Ya, dia seorang peranakan Arab. Dan pada postingan ini, saya upload 3 foto. 



Dunia Tanpa Jendela

Oleh Akhmad Fatoni

Dari Kiri: Aris Rahman Yusuf, Mochammad Asrori, dan Chamim Kohari.
Pendiri Liliput ini sedang bercengkrama asik bersama penyair dan kyai salah satu pesantren di Mojokerto.

Bayangkan bagaimana hidup tanpa buku? Ketika saya membayangkan tiba-tiba bayangan itu teramat menyeramkan. Iya, amat menyeramkan. Bagaimana tidak, bayangan tentang tak ada sejarah, tak ada sekolah, tak ada perpustakaan, tak ada puisi, tak ada cerpen, tak ada novel, tak ada kamus, dan tentu tak ada toko buku, juga pastinya tidak ada kupu-kupu lucu (promosi tidak apalah sedikit, kupu-kupu lucu atawa KKL adalah toko buku dan penerbit indie yang saya kelolah, hehehe). Ya, tentu semua itu tidak ada bukan. Dan kata-kata yang mendengung di telinga saya karena dulu sering digemborkan Tantowi Yahya dalam salah satu acara di stasiun televisi, "buku adalah jendela dunia". Walaupun tidak dari Tantowi Yahya, kalian juga tahu toh? Baiklah, coba kita sedikit kritis (ya sedikit saja kalau banyak nanti waktu kalian habis dan pacarnya ndak kebagian waktu) dengan berimajinasi bagaimana dunia tanpa jendela. Bisa? Saya yakin kalau membayangkan rumah, toko, kantor, dan gedung-gedung lain tanpa jendela pasti bisa. Dan untuk membayangkan dunia tanpa jendela, pasti sulit bukan? Kalian pasti tidak bisa (bukannya menghina, tapi ini kenyataan. Loh jangan marah dulu, saya juga tidak bisa kok membayangkannya, hehehe).

Bagaimana bisa?
Kalau asal membayangkan sih pasti bisa. Ya membayangkan dengan bayangan absurd. Bayangan yang tidak realis. Ya, pokoknya fiktif deh. Kalian pasti bisa, wong saya tinggal merem saja langsung bisa kok. Eh, tapi jangan membahas yang absurd dulu, jangan yang nonrealis dulu. Loh, kenapa ndak boleh wong di dunia ini saja isinya ada dua itu, realis dan nonrealis. Ya, ya, ya, saya tahu, kalau soal itu saya yakin kalian pasti punya banyak alasan untuk mendebat. Eist, tunggu dulu, coba saya tanya apakah hidup kalian ini nonrealis? Apakah kalau kalian lapar, terus minta makan di warung (tidak beli loh ini karena tidak punya uang) akan diberi? Ya, kemungkinan untuk diberi itu 10 persen (kalau penjaga warungnya itu baik dan memang mengakui kalau kita ini selalu tidak punya uang dan sering utang di situ, tapi kalau catatan utangnya numpuk pasti penjual menggerutu). Bener tidak? Oke, maka dari itulah saya mengajak berimajinasi yang realis dulu. Sudah? Bisa membayangkan? Susah toh? Ya susah. Maka dari itu, hal yang mustahil itu tentu sama dengan betapa pentingnya buku itu dalam kehidupan dunia.

Kehidupan dunia bagaimana maksudnya?
Beginiloh, dunia itu membutuhkan buku. Semua aktivitas di dunia ini membutuhkan buku. Makanya sampai muncul, "buku adalah jendela dunia" itu ya tentu karena itu. Sudah menjadi kebutuhan. Ya, kadang kita saja yang sok cuek tidak butuh. Iya, tidak butuh. Memang sih, tapi kalau dicermati yang berpendapat seperti itu orang yang malas. Orang yang mengandalkan orang lain. Berpangku tangan. Ya bagaimana tidak, mereka yang tidak mau membaca buku itu menunggu diberitahu orang yang membaca buku. Loh, wong saya tidak diberitahu orang yang baca buku kok? Jika ada yang ngeyel seperti itu, ya memang, wong yang memberitahu itu diberitahu. Menyebar. Mulut ke mulut (sebenarnya dari mulut ke telinga, mulut ke telinga lagi, karena kita orangnya males ribet ya disingkat saja mulut ke mulut).

Lantas apa yang perlu diperbaiki?
Ya, tidak ada yang perlu diperbaiki. Wong tidak ada yang rusak kok. Semua sudah bener. Cuma yang tidak bener ya kawan-kawan Liliput ini. Loh, kok bisa begitu? (Aih, saya takut kalau dua orang penggagas Liliput ini datang mengeroyok saya wong badannya gede-gede begitu. Hehehe...) Ya, dalam imajinasi saya liliput itu makhluk atau sesuatu yang kecil. Imut-imut (Ya seperti saya ini, oh iya saya sekarang jomblo loh, ya kali aja ada yang sedang cari pacar). Eh, kok malah yang di balik Liliput orangnya ginuk-ginuk. Ya, ambyar imajinasi saya. Lah, lantas dijawab kapan hari oleh Mochammad Asrori kepada saya bahwa Liliput itu LINGKAR LITERASI PUTIH. Ya saya sontak jawab, OW. Ya, begitu kayak orang tolol (memang tolol sih, kalau tidak tolol ya sudah punya pacar, tidak hanya bergulat dengan buku saja, tapi saya orangnya asik kok diajak ngobrol). Sejak saat itulah, saya sering sekali melihat dua orang itu (Mochammad Asrori dan Aris Rahman Yusuf) sering bersama. Mereka juga asik seperti saya kok orangnya. Aris itu juga masih jomblo loh (ya siapa tahu ada dua jomblowati yang baca tulisan ini dan kebetulan sahabatan akhirnya hanya saling memandang karena harus rebutan mengalah untuk PDKT pada saya), jadi bisa dibagi. Satu kenalan dengan saya dan satu dengan Aris. Loh kalau Kak Asrori bagaimana kok tidak dikenalkan. Apakah dia jomblo juga? Aih, saya ndak ikut-ikut kalau nanti ada yang melotot memandang kalian, hehehe... So, biar yang tidak bener (sebenarnya sudah tepat, cuma pergerakan kawan-kawan Liliput ini di media online saja. Satu contoh saat ini sedang menggelar Lomba dan pesertanya sudah banyak loh. Buruan ikutan, tinggal gabung di akun FB Liliput), makanya kakak Liliput yang ndak imut-imut itu berencana menurunkan aktivitas yang semula hanya online menjadi offline dengan saya yakni mengobrol tentang buku. Rutin. Ya, semacam kelompok atau club buku begitulah nantinya.

Jadi, kalian sudah faham betapa pentingnya buku? Jika masih menjawab tidak punya waktu dan malas. Ya sudah sana, tapi kalau kalian termasuk orang yang suka mengubah kebiasaan. Di sinilah waktunya, saya dan para pendiri Liliput ini hari Minggu, 3 Mei 2015, mau ngobrol buku. Ya, bincang-bincang buku begitulah. Namanya buku itu penting. Ya seperti pacar, kalau sedang ketemu teman ya kita curhatkan. Lah, kebetulan buku itu saat ini yang mengantikan sosok pacar, ya bukulah yang mau saya obrolkan pada Kak Aris dan Kak Asrori ini. Eh, Kak di mana ngobrolnya? Tahu perpustakaan umum Kabupaten Mojokerto? Ya di situ nanti kita berbincang JENDELA DUNIA. Silakan bergabung dengan kami. Ya, semoga saja ada kopi. ***

Friday, 24 April 2015

Buku Mempererat Silaturrahim

Oleh Akhmad Fatoni


Durga Umayi: Buku kajian Sosiologi Sastra karya Prof. Dr. I. B. Putere Manuaba, M.Hum.

Entah sejak kapan saya mulai jatuh cinta dengan buku. Memang awalnya, dulu hanya membaca buku-buku. Saat membaca itu, saya merasa menemukan sebuah dunia baru. Dunia yang diciptakan sang penulis melalui karyanya tersebut. Ya, hanya sebatas itu. Bermula dari membaca buku di perpustakaan, sampai akhirnya sekarang sudah memiliki koleksi buku yang sudah mencapai ratusan. Sekali lagi, hal itu berawal dari kecintaan terhadap buku. Lambat laun, dari yang hanya bisa membaca karya, sekarang kecintaan itu menghubungkan saya dengan penulis-penulis buku. Dan dari buah silaturrahim itu, saya pun mulai menulis buku. Sungguh ini tidak saya duga sama sekali.

Begitu juga dengan buku kajian Durga Umayi, Pergulatan Diri Manusia karya Prof. Putere, saat ini menjadi dosen pembimbing Tesis saya, tersebut mambu membuka silaturrahim. Loh, bagaimana ceritanya? Beberapa waktu yang lalu, Pak Wawan Setiawan, dosen Unesa dan juga sastrawan, mengadakan bincang buku di sanggar KAJ yang saya kelolah. Dari sana akhirnya kita bercakap mulai dari dunia tulis-menulis sampai pada studi master saya. Bermula dari itulah, akhirnya Pak Wawan menitipkan salam kepada Prof. Putere, "Sampaikan salam saya pada beliau. Saya ingin punya karya terbaru beliau." ujar Pak Wawan. Ketika saya bimbingan tesis, salam itu pun saya sampaikan.


Dari sanalah, akhirnya kita berbincang panjang lebar. Saya bercerita tentang Pak Wawan yang sering membuat acara di sanggar KAJ. Seusai saya bercerita, ternyata Prof. Putere juga ingin membuat acara di sanggar. Sungguh menarik itu, batin saya. Pada pertemuan selanjutnya, saya akhirnya diberi buku Durga Umayi tersebut. Dua eksemplar. Satu untuk saya dan satu untuk Pak Wawan.


Kemarin, Selasa (23 April 2015) saya menemui Pak Wawan di FBS, Unesa. Saat sedang asik mengobrol, tiba-tiba datanglah salah seorang mahasiswanya, berbicara tentang mata kuliah. Mendengar itu, saya pun mundur. Memberi keleluasaan agar perbincangan tersebut tidak terganggu. Aih, mahasiswi tersebut ketika saya lirik, lumayan cantik wajahnya. hehehe...



Pak Wawan dan mahasiswanya sedang bercakap-cakap tentang perkuliahan.

Sebenarnya Pak Wawan ingin sekali bercakap panjang lebar, namun karena beliau ada urusan ke Stasiun Gubeng untuk tiketnya berangkat ke Jember. Kita pun tidak bisa berbincang lama, sebab tukang ojek langganan beliau sudah menuggu. Namun, beliau masih ingin ngopi, sehingga mengajak malamnya untuk bercengkrama santai di warung kopi. Setelah Pak Wawan berangkat dengan ojek langganannya, saya pun berangkat mengambil buku untuk diskusi Terminal Sastra, diskusi yang saya selenggarakan sebulan sekali, pada kali ini sudah kali ke-12.


Nampaknya, waktu masih belum berpihak. Sore harinya Pak Wawan SMS, katanya tidak bisa ngopi sebab urusan di Stasiun Gubeng belum selesai. Namun yang menarik yakni beliau mengirimkan SMS Pak Budi Darma: (DARI PROF BD, DIKIRIM 17 APRIL, 1955: Kalau kebetulan ketemu lagi dg teman2 dari komunitas, tolong sampaikan salam saya.) Sungguh, salam yang cukup mendebarkan. Serupa salam dari seorang gadis cantik, hehehe...maklum sedang jomblo (sedikit promosi tak apalah). Semoga suatu ketika, Pak Budi Darma bisa berkunjung ke sanggar KAJ dan kita membuat diskusi buku ataupun berbincang tentang sastra. Terimakasih Pak Budi Darma, salamnya sudah saya terima.***

Thursday, 23 April 2015

Identitas Sosial dan Gaya Hidup Anggota Komunitas Molor

Oleh Akhmad Fatoni

Ketua Molor: G-Bun dan sepeda juaranya.
Mojosari walaupun hanya sebuah kota kecamatan di Kabupaten Mojokerto, akan tetapi kota ini masuk dalam Jalan Nasional Rute 24 yang menghubungkan Kota Mojokerto dengan Kecamatan Gempol, Pasuruan. Mojosari terletak 15 km utara Pacet dan 18 km sebelah timur Kota Mojokerto. Selain itu, Mojosari merupakan ibukota Kabupaten Mojokerto. Hal itulah yang akhirnya membuat beberapa gedung pemerintahan dipindah dari Kota Mojokerto ke Mojosari [Wikipedia]. Oleh sebab itulah, beberapa aktivitas pun terjadi di jantung kedua Mojokerto ini. Mulai dari urusan pemerintah, perdagangan, hingga komunitas-komunitas. Dan salah satu komunitas yang akan diulas dalam tulisan ini yakni komunitas Molor.

Komunitas Molor merupakan komunitas sepeda yang anggotanya terdiri dari anak-anak muda di daerah Mojosari dan sekitarnya. Namun untuk basecamp bermarkas di bengkel steel pelek di Jalan Airlangga Kauman-Mojosari (utaranya rumah sakit Kartini). Nama Molor sendiri merupakan kepanjangan dari Mojosari Low Rider. Komunitas ini berdiri sejak tahun 2010, didirikan oleh Rudi Putra “G-Bun” Budi Sartika. Molor terbentuk karena dua alasan, yakni pertama, sebagai bentuk support kepada kelompok musik SID, karena personil SID juga memakai sepeda Low Rider (Banly). Kedua, karena fanatik dengan sepeda antik.

Komunitas Molor: Saat menonton konser SID
Seperti yang telah disinggung sebelumnya, tulisan ini akan menjadikan Komunitas Molor sebagai objek material, sedangkan objek formalnya yakni identitas dan gaya hidup anggotanya. Lantas untuk apa tulisan ini dibuat? Tentu karena kelompok kecil memiliki pengaruh yang besar terhadap masyarakat dan juga perilaku sehari-hari tiap individu, sehingga akan diketahui sampai sejauh mana dinamika masyarakat yang bersangkutan (Soekanto, 2005). Dan dalam konteks ini yakni dinamika masyarakat Mojosari dan sekitarnya.

Identitas Sosial
Pengertian identitas yang dimaksud di sini yakni identitas yang terbentuk dari kacamata sosial. Sedangkan Identitas sosial menurut Barker (2005) ialah persamaan dan perbedaan, soal personal dan sosial, soal yang dimiliki secara bersama-sama dengan beberapa orang dan yang membedakannya dengan orang lain. Maka dari itu, bila berbicara identitas pasti hal itu berkaitan dengan interaksi, entah itu personal dengan personal atau suatu kelompok.

Dalam tulisan ini, akan menyoroti bagaimana Komunitas Molor membentuk identitas sosialnya. Brown (2004) berpendapat bahwa identitas sosial itu bisa terbentuk dari bagaimana suatu kelompok membentuk dengan baik sehingga bisa lebih baik dari kelompok yang lain. Berdasarkan dari hasil wawancara dengan salah satu anggota, ternyata Komunitas Molor selain sebagai wadah untuk menyalurkan hobi dan mendukung kolompok musik SID, mereka juga menyelenggarakan acara-acara sosial.

Acara-acara itu meliputi tanam pohon yang dilaksanakan di Mojokerto bersama komunitas Mojopahit Low Rider; Peringatan hari HIV dengan cara membagi-bagi balon di jalanan kota Mojokerto (sekitar alun-alun). Pada setiap kegiatan yang dilakukan dana diambil dari uang kas yang setiap dikumpulkan setiap kali pertemuan, sebesar Rp5.000. Acara tersebut mereka lakukan dengan bersepeda (gowes), dan pada saat gowes ini karena memang jalannya sepeda tidak bisa cepat menimbulkan daya tarik sendiri pada masyarakat sekitar. Bahkan terkadang ada warga yang meminta mereka berhenti sejenak untuk sekadar foto bersama.

Foto Bersama: Komunitas Molor seusai acara gowes.

Dan pada saat acara peringatan hari HIV, mereka membagikan balon tersebut tentu bukan tanpa maksud. Balon yang mereka bagikan adalah sebuah simbol untuk menggantikan alat kontrasepsi (baca: kondom) yang memang bentuknya mirip dengan balon. Selain acara sosial tersebut, Komunitas Kolor juga melakukan pengenalan budaya Mojokerto melalui acara silaturrahim antarkomunitas pecinta sepeda antic (Low Rider). Acara tersebut dihadiri oleh komunitas Low Rider Alarm Malang, Slow (Surabaya Low Rider), SKK (Sidoarjo Kustom Kruiser), Independen Sidoarjo, Lovy Sidoarjo, Glowridan (Gerombolan Low Rider Krian). Pada acara tersebut mereka gowes bareng untuk mengunjugi situs-situs yan ada di Trowulan.

Tentu hal itu menjadi suatu hal yang rekreatif, sebab di tengah gemuruhnya kendaraan bermotor melintas segerombolan orang yang menaiki sepeda angin. Bahkan kata salah satu anggota Molor menjelaskan masyarakat berbaris rapi di pinggir jalan saat mereka melintas. Meskipun barisan yang terbentuk itu tidak terencana, namun dari begitu banyaknya gowes akhirnya orang-orang yang saat itu beraktivitas di pinggir jalan pada menghentikan aktivas. Ada yang yang hanya menonton, ada juga yang sambil memotret.

Gaya Hidup
Logo Komunitas: Eksistensi Molor dalam event Low Rider di Surabaya
Sebuah komunitas pada mulanya terbentuk karena memiliki keinginan dan kebutuhan yang sama, namun dari aktivitas komunitas itu bisa kita amati tentang kekhasan yang mereka dimiliki. Dan hal itulah yang akhirnya mencari style yang melekat dengan komunitas tersebut. Menurut Sobel gaya hidup adalah setiap cara kehidupan yang khas dan karena kekhasan itu suatu gaya hidup dapat dikenali (Ibrahim, 2009).

Pada Komunitas Molor ini, seperti sejarah berdirinya selain sebagai fanatisme terhadap SID juga sebagai hobi dengan sepeda antik. Pada tujuan yang kedua inilah peran konsumsi dimainkan. Para anggota Molor yang setiap malam Minggu bertemu ini, tidak segan-segan menghabiskan uang mereka untuk memodifikasi sepeda anginnya tersebut. Menurut Miftah, salah satu anggota Molor biaya modifikasi bisa mencapai sekitar Rp1.500.000-Rp3.000.000.

Kenapa mereka sampai berani mengeluarkan uang begitu banyak hanya untuk memodifikasi sepeda angin? Tentu pertanyaan itu akan kerap dilontarkan bagi orang-orang yang tidak sedang gila (baca: hobi) dengan benda antik tersebut. Namun bagi yang sudah terlanjur hobi, hal itu tidak menjadi kendala, bahkan semakin bagus sepeda yang mereka miliki maka akan semakin naik prestise-nya di mata anggota yang lain. Dan akan merasa lebih bahagia bila orang-orang mengerubungi dan berfoto di sepeda anginnya. Sebab wilayah eksperimentasi gaya hidup menurut Zablocki dan Kanter (dalam Ibrahim 2009) tidak lagi berjalan koheren yang membuat konsumsi lebih besar daripada produksi.

Terus Berkreasi: Komunitas Molor saat ikut event di Gedung Pahlawan Surabaya.
Dan di komunitas Molor, G-Bun sang ketua itulah satu-satunya yang sangat “gila” memodifikasi. Dan kegilaan itu menjadi berbuah tatkala sepedanya memenangi juara dalam event yang diselenggarakan di Lapangan Parkir Ramayana Sidoarjo. Jadi, bisa disimpulkan bahwa gaya hidup dan simbol-simbol dari Komunitas Molor tersebut telah menciptakan perbedaan estetik yang “Secara sosiologis, memiliki perilaku dan kepercayaan yang berbeda dengan kebudayaan induk mereka.”***



Narasumber: Nur Miftakhus (anggota Komunitas Molor)

Daftar Pustaka

Barker, Chris. 2005. Cultural Studies Teori dan Praktik. Yogyakarta: Bentang Pustaka.
Brewer, M.B. 2004. Taking the Social origins of Human Nature Seriously: Toward a more  Imperalist Social Psychology. Personality and social psychology review, 8, 107–113.
Ibrahim, Idi Subandy. 2009. Lifestyle Sebuah Pengantar Komprehensif David Chaney. Yogyakarta: Jalasutra.
Soekanto, Soerjono. 2005. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Raja Grafindo Persada.